Indo Premier Rilis LADI Indikator Trading Saham Real Time

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:42:01 WIB
Indo Premier Rilis LADI Indikator Trading Saham Real Time

JAKARTA - Peluncuran fitur baru dari PT Indo Premier Sekuritas menjadi penanda perubahan pendekatan dalam penyediaan alat analitik bagi investor ritel. 

Perusahaan ini resmi merilis layanan Live Accumulation Distribution Indicator atau LADI. Fitur tersebut dirancang untuk menampilkan indikator akumulasi dan distribusi saham berbasis data real time. IPOT menyebut layanan ini sebagai yang pertama dan satu satunya tersedia bagi investor ritel di Indonesia.

Hadirnya LADI sekaligus menyoroti tantangan struktural yang masih melekat pada sebagian besar aplikasi sekuritas. Banyak platform hingga kini beroperasi sebatas sebagai data viewer. Artinya, indikator yang ditampilkan masih berbasis data historis atau snapshot. Kondisi tersebut berbeda dengan pendekatan engine analitik berbasis streaming real time yang kini diusung IPOT.

Kesenjangan Data Historis Dan Real Time

Dalam dinamika pasar saham yang bergerak cepat, perbedaan waktu pembaruan data menjadi isu krusial. Moleonoto selaku CEO PT Indo Premier Sekuritas menekankan pentingnya presisi waktu dalam pengambilan keputusan. Ia menilai bahwa selisih waktu sekecil apa pun dapat memengaruhi kualitas entry dan exit. Terlebih pada situasi pasar yang volatil.

“Pasar bergerak setiap detik. Jika indikator yang digunakan investor tidak bergerak secepat pasar, maka akan muncul gap antara realitas dan persepsi. Dalam trading, gap tersebut dapat berarti masuk setelah momentum selesai atau keluar setelah distribusi terjadi,” ujar Moleonoto dalam keterangan resminya, Rabu (25/2/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kecepatan bukan sekadar keunggulan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar. Ketika indikator tertinggal dari pergerakan pasar, investor berisiko membaca kondisi yang sudah berubah. Momentum yang seharusnya ditangkap di awal bisa saja telah berlalu. Akibatnya, keputusan yang diambil menjadi kurang optimal.

Risiko Penggunaan Indikator Non Real Time

IPOT menilai penggunaan indikator non real time bukan hanya soal keterbatasan fitur. Ada implikasi risiko yang nyata bagi investor ritel. Pertama, keterlambatan dalam mendeteksi akumulasi atau distribusi berpotensi membuat investor masuk saat fase akumulasi hampir selesai. Sebaliknya, investor bisa keluar ketika distribusi sudah berlangsung.

Momentum utama di pasar saham kerap terjadi sebelum harga bergerak signifikan. Indikator berbasis data viewer memiliki potensi tertinggal dalam menangkap tekanan tersebut. Kedua, muncul false sense of timing. Investor merasa telah membaca sinyal pasar secara tepat, padahal indikator yang digunakan merepresentasikan kondisi historis.

Ketiga, indikator non live mendorong trading yang bersifat reaktif dan berbasis harga semata. Pendekatan ini tidak sepenuhnya mencerminkan tekanan underlying yang sedang berlangsung. Dalam kondisi volatilitas tinggi, trading reaktif meningkatkan risiko kesalahan eksekusi. Keempat, tanpa integrasi real time dalam satu tampilan, investor harus berpindah halaman untuk melakukan verifikasi tambahan.

Proses perpindahan tersebut dalam praktiknya memperlambat analisis. Dalam pasar yang bergerak cepat, keterlambatan beberapa detik saja dapat berdampak pada hasil transaksi. Karena itu, IPOT memandang perlunya perubahan standar teknologi industri agar selaras dengan karakter pasar yang real time.

Dorongan Evolusi Standar Teknologi Industri

“Dalam konteks ini, IPOT menilai bahwa standar teknologi industri perlu berevolusi. Jika pasar bergerak real time, maka indikator juga seharusnya real time,” ucap Moleonoto.

Menurutnya, pengembangan indikator real time bukan sekadar pembaruan antarmuka pengguna. Di baliknya terdapat kebutuhan infrastruktur data streaming berkecepatan tinggi. Sistem low latency menjadi syarat utama agar pembaruan indikator dapat mengikuti setiap transaksi yang terjadi di pasar.

Selain itu, dibutuhkan kemampuan algorithmic coding dengan presisi tinggi. Perusahaan juga harus memiliki tim kuantitatif internal yang mampu merancang serta menguji model analitik secara berkelanjutan. Kompleksitas engineering dan kebutuhan investasi teknologi yang signifikan membuat tidak semua perusahaan sekuritas memiliki kapabilitas tersebut.

Banyak platform akhirnya memilih bertahan pada model data viewer. Model ini relatif lebih sederhana dan ringan secara sistem. Namun, pendekatan tersebut memiliki keterbatasan dalam menangkap dinamika pasar secara langsung. IPOT mengambil jalur berbeda dengan membangun engine algoritmik LADI secara internal.

Demokratisasi Teknologi Institutional Grade

Engine tersebut dirancang agar indikator diperbarui secara kontinu seiring transaksi terjadi di pasar. Dengan demikian, data yang diterima investor mencerminkan tekanan beli dan jual yang sedang berlangsung. Fitur Accumulation Distribution Indicator sendiri lazim digunakan dalam trading institusional.

Alat analisis ini membantu membaca tekanan sebelum sepenuhnya tercermin dalam harga. Biasanya, akses terhadap teknologi semacam ini identik dengan pelaku pasar besar. Investor ritel jarang memiliki sarana dengan tingkat presisi serupa dalam satu platform terpadu.

“Dengan menghadirkan LADI ke investor retail, IPOT melakukan demokratisasi teknologi institutional grade. Investor ritel kini memiliki akses terhadap alat presisi tinggi yang sebelumnya identik dengan pelaku pasar besar,” kata Moleonoto.

Melalui langkah ini, IPOT berupaya mempersempit kesenjangan antara investor institusi dan ritel dari sisi teknologi analitik. Keberadaan LADI diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Investor tidak lagi sekadar bereaksi terhadap pergerakan harga, tetapi dapat membaca tekanan pasar secara lebih mendalam dan aktual.

Peluncuran LADI pada akhirnya menjadi refleksi arah perkembangan industri sekuritas. Ketika pasar bergerak dalam hitungan detik, kebutuhan terhadap indikator yang bergerak dengan kecepatan serupa menjadi semakin relevan. IPOT memposisikan inovasi ini sebagai bagian dari transformasi menuju ekosistem trading yang lebih presisi, responsif, dan berbasis data real time.

Terkini