JAKARTA - Tekanan yang membayangi pasar saham pada perdagangan sebelumnya membuat pelaku pasar menatap sesi Rabu dengan kewaspadaan tinggi.
Setelah Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi cukup dalam, sejumlah analis melihat adanya peluang teknikal yang dapat dimanfaatkan investor. Momentum uji support dinilai menjadi penentu arah pergerakan indeks berikutnya.
Laju Indeks Harga Saham Gabungan berpeluang menguat pada perdagangan saham Rabu 25 Februari 2026. Optimisme tersebut muncul meski pada sesi sebelumnya indeks ditutup di zona merah akibat tekanan sejumlah sektor utama.
Pada perdagangan saham Selasa 24 Februari 2026, IHSG melemah 1,37 persen ke posisi 8.280,82 akibat anjloknya sektor saham energi sebesar 3,5 persen, sektor consumer siklikal bertambah 3,1 persen dan infrastruktur susut 2,29 persen.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan masih mendominasi, terutama dari sektor sektor berbasis komoditas dan konsumsi. Meski demikian, sejumlah analis menilai koreksi ini masih dalam batas wajar secara teknikal.
Proyeksi Pergerakan IHSG
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menuturkan, pergerakan IHSG sebatas uji support setelah break out sehari sebelumnya. Ia menyarankan untuk investor dan trader mengawasi ketat level support kritikal di 8.250 sebagai penopang indeks saham.
“Serta IHSG harus mampu kembali rebound at least ke atas 8.350, sebelum coba naik ke atas 8.430 lagi,” ujar dia dalam catatannya. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya level teknikal sebagai acuan strategi jangka pendek.
Sementara itu, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menuturkan, IHSG akan konsolidasi menguat. IHSG akan berada di level support 8.259,8.142 dan level resistance 8.408,8.572.
Rentang support dan resistance tersebut menjadi panduan bagi pelaku pasar dalam menentukan area masuk maupun keluar. Konsolidasi dinilai membuka ruang penguatan apabila sentimen eksternal mereda.
Rekomendasi Saham Pilihan
Untuk rekomendasi saham hari ini, Liza memilih saham PT Erajaya Swasembada Tbk ERAA, PT Indosat Tbk ISAT, PT Japfa Comfeed Tbk JPFA, PT Triputra Agro Persada Tbk TAPG. Keempat saham tersebut dinilai memiliki peluang teknikal menarik.
PT Erajaya Swasembada Tbk ERAA direkomendasikan dengan Entry Buy 416 – 428. Target Price berada di kisaran 442 – 456, Support 410 – 416 dan Cut loss 406.
PT Indosat Tbk ISAT direkomendasikan dengan Entry Buy 2.270 – 2.330. Target Price 2.400 – 2.470, Support 2.240 – 2.270 dan Cut loss 2.220.
PT Japfa Comfeed Tbk JPFA direkomendasikan dengan Entry Buy 2.360 – 2.420. Target Price 2.500 – 2.580, Support 2.320 – 2.360 dan Cut loss 2.300.
PT Triputra Agro Persada Tbk TAPG direkomendasikan dengan Entry Buy 1.510 – 1.550. Target Price 1.600 – 1.645, Support 1.490 – 1.510 dan Cut loss 1.480.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Penutupan IHSG Sesi Sebelumnya
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan tiba tiba merosot tajam pada sesi kedua perdagangan saham Selasa 24 Februari 2026. Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah mayoritas sektor saham yang tertekan.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup anjlok 1,37 persen ke posisi 8.280,83. Indeks saham LQ45 merosot 1,2 persen ke posisi 837,62 dan seluruh indeks saham acuan tertekan.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG tertekan beberapa sektor saham antara lain sektor saham energi, consumer siklikal dan infrastruktur. “Di sisi lain emiten emiten konglomerasi juga turut membebani pergerakan IHSG,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Ia mengatakan, dari sisi sentimen, IHSG diperkirakan dipengaruhi ada ketidakpastian dari kebijakan Amerika Serikat serta geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas meningkatkan kekhawatiran investor.
Rincian Pergerakan Sektor Saham
Pada perdagangan saham Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.437,08 dan level terendah 8.259,47. Sebanyak 567 saham melemah, 153 saham menguat dan 99 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 3.410.615 kali dengan volume perdagangan saham 60,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 29,6 triliun dan posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.810.
Dari 11 sektor saham, sektor saham keuangan naik 1,0002 persen. Sementara itu, sektor saham energi melemah 3,5 persen dan mencatat koreksi terbesar.
Sektor saham basic terpangkas 1,23 persen, industri merosot 1,89 persen, consumer nonsiklikal turun 1,41 persen, consumer siklikal merosot 3,12 persen, kesehatan terperosok 1,24 persen, properti turun 2,19 persen, teknologi susut 1,77 persen, infrastruktur melemah 2,29 persen dan transportasi melemah 1 persen.