JAKARTA - Perubahan cuaca diprediksi akan mewarnai aktivitas masyarakat Jawa Timur sepanjang Kamis 19 Februari 2026.
Warga di berbagai daerah diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan petir pada siang hari yang dapat disertai angin kencang. Sementara pada malam hingga dini hari, hujan dengan intensitas lebih ringan diperkirakan masih berlanjut.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Juanda memprakirakan cuaca di wilayah Jawa Timur berpeluang diguyur hujan petir saat siang dan hujan ringan pada malam hari, Kamis 19 Februari 2026. Informasi ini menjadi rujukan utama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan. Dinamika atmosfer yang berkembang membuat kondisi cuaca cenderung tidak stabil.
Berdasarkan data yang diterima dari BMKG, cuaca pada Kamis pagi hari diprakirakan cerah berawan dan berpeluang terjadi hujan petir. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi perubahan cuaca secara cepat meski pagi diawali dengan langit relatif cerah. Peralihan menuju siang hari diprediksi memicu pembentukan awan lebih tebal.
Potensi Hujan Petir Sejak Siang Hingga Sore
Dilanjut pada siang hingga sore hari, diprakirakan berawan tebal dan berpeluang hujan petir. Fase ini menjadi periode dengan potensi cuaca paling signifikan sepanjang hari. Masyarakat diimbau mewaspadai kemungkinan hujan lebat disertai kilat dan angin.
Perubahan kondisi dari cerah berawan menjadi berawan tebal menandakan pertumbuhan awan konvektif yang lebih intens. Fenomena ini lazim terjadi pada masa peralihan musim atau ketika kelembapan udara tinggi. Aktivitas luar ruangan pada siang hingga sore hari perlu mempertimbangkan potensi gangguan cuaca tersebut.
Sedangkan pada malam hingga dini hari, diprakirakan berawan tebal dan berpeluang terjadi hujan ringan. Intensitas hujan cenderung menurun dibandingkan siang hari, namun tetap berpotensi membasahi sejumlah wilayah. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas malam serta perjalanan jarak jauh.
Suhu Udara Dan Arah Angin Dominan
Suhu udara hari ini berkisar antara 14 hingga 33 derajat Celsius, dengan kelembapan udara 57 sampai 100 persen. Rentang suhu tersebut menunjukkan perbedaan signifikan antara wilayah dataran tinggi dan pesisir. Tingkat kelembapan yang tinggi turut mendukung terbentuknya awan hujan.
Sementara arah angin dominan dari barat laut dengan kecepatan 05 hingga 30 kilometer per jam. Kecepatan angin yang bervariasi ini dapat memperkuat potensi hujan petir di sejumlah daerah. Pergerakan massa udara dari barat laut juga memengaruhi distribusi awan di Jawa Timur.
Kondisi angin tersebut perlu menjadi perhatian terutama bagi nelayan dan pelaku transportasi laut. Selain berdampak pada wilayah daratan, dinamika atmosfer juga memengaruhi perairan sekitar Jawa Timur. Informasi ini menjadi dasar perencanaan aktivitas kelautan.
Kondisi Perairan Jawa Timur
Di sisi lain, BMKG Tanjung Perak menyebut kondisi cuaca di tiga wilayah perairan Jawa Timur umumnya berawan tebal. Situasi ini mencerminkan potensi pertumbuhan awan hujan yang juga terjadi di kawasan laut. Aktivitas pelayaran diimbau tetap memperhatikan perkembangan cuaca terkini.
Pada perairan wilayah Laut Jawa bagian timur arah angin didominasi dari barat dengan kecepatan 27 knots atau 50 kilometer per jam, dan gelombang setinggi 0,8 sampai 2,2 meter. Tinggi gelombang tersebut tergolong sedang dan dapat memengaruhi stabilitas kapal kecil. Nelayan tradisional diharapkan meningkatkan kewaspadaan.
Kemudian di perairan wilayah Selat Madura arah angin didominasi dari barat dengan kecepatan 26 knots atau 48 kilometer per jam, dan gelombang setinggi 0,5 sampai 1,1 meter. Meski gelombang relatif lebih rendah dibandingkan Laut Jawa bagian timur, kondisi ini tetap memerlukan perhatian.
Imbauan Waspada Perubahan Cuaca
Dengan prakiraan hujan petir pada siang hari dan hujan ringan pada malam hari, masyarakat Jawa Timur diimbau menyesuaikan rencana kegiatan. Persiapan seperti membawa perlengkapan hujan dan memantau pembaruan informasi cuaca sangat dianjurkan. Perubahan cuaca yang cepat berpotensi terjadi dalam waktu singkat.
Informasi prakiraan cuaca ini menjadi pedoman penting bagi berbagai sektor, mulai dari pertanian, transportasi, hingga kelautan. Kesiapsiagaan sejak dini diharapkan mampu meminimalkan dampak yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrem. Dengan memahami pola cuaca harian, masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih aman dan nyaman.