JAKARTA - Keputusan suku bunga acuan kembali menjadi sorotan pelaku pasar pada Februari 2026.
Mayoritas ekonom memperkirakan Bank Indonesia tidak akan mengubah arah kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Fokus utama bank sentral dinilai masih tertuju pada stabilitas nilai tukar dan pengelolaan risiko eksternal. Karena itu, BI Rate diproyeksikan bertahan di level 4,75%.
Rapat Dewan Gubernur berlangsung selama dua hari sebelum hasilnya diumumkan hari ini, Kamis. Sejak September 2025, suku bunga kebijakan memang tidak bergerak dari level 4,75%. Kondisi tersebut dinilai masih relevan untuk menjawab tantangan pasar global. Para ekonom melihat belum ada urgensi kuat untuk melakukan perubahan.
Berdasarkan proyeksi ekonom yang dihimpun Bloomberg, konsensus menunjukkan bahwa Bank Indonesia akan menahan BI Rate 4,75% pada Februari 2026. Sebanyak 22 dari 23 ekonom meyakini suku bunga acuan akan tetap 4,75%, hanya satu yang memproyeksikan BI Rate turun. Konsensus ini memperkuat ekspektasi bahwa arah kebijakan masih cenderung berhati-hati.
Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memperkirakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada RDG Februari 2026 sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya risiko pasar keuangan. Ia melihat tekanan eksternal masih cukup kuat membayangi pergerakan pasar domestik.
Josua menyoroti sejumlah tekanan yang saat ini membayangi pasar domestik, mulai dari peringatan MSCI mengenai isu free float hingga revisi lembaga pemeringkat Moody's terhadap prospek utang negara Indonesia, dari stabil menjadi negatif. Dinamika tersebut berpotensi meningkatkan sensitivitas investor terhadap risiko.
"Kondisi ini berpotensi menyebabkan kenaikan premi risiko dan volatilitas aliran modal yang cenderung meningkat," jelasnya, Rabu. Dalam konteks tersebut, Josua menilai BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan menjaga kepercayaan investor ketimbang melakukan pelonggaran moneter dalam jangka pendek.
"Sehingga ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas, setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik," ujar Josua. Dengan pertimbangan itu, ia melihat peluang pelonggaran moneter masih sangat terbatas pada fase sekarang.
Arus Modal Dan Inflasi Awal Tahun
Pandangan serupa juga disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual. Ia meyakini bahwa bank sentral belum akan melakukan pelonggaran moneter pada bulan ini. Faktor eksternal dan pergerakan dana asing menjadi perhatian utama.
Menurutnya, keputusan untuk menahan BI Rate didorong oleh masih terjadinya net outflow atau aliran modal asing keluar pada instrumen aset keuangan Tanah Air. Kondisi ini dinilai belum kondusif untuk penurunan suku bunga. Stabilitas pasar keuangan masih menjadi prioritas kebijakan.
Meski demikian, David melihat adanya peluang penurunan suku bunga ke depannya. Kemungkinan risiko dari dampak perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan turunnya harga aset dinilai bisa mendorong pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
Fenomena Deflasi Bulanan Dan Inflasi Tahunan
Di sisi data domestik, Badan Pusat Statistik mencatat fenomena berbeda pada indeks harga konsumen Januari 2026. Secara bulanan terjadi penurunan harga, namun secara tahunan inflasi terlihat tinggi. Perbedaan ini menimbulkan pembacaan yang lebih kompleks terhadap kondisi harga.
BPS melaporkan bahwa secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,15% month to month pada Januari 2026. Sementara itu, inflasi tahunan pada Januari 2026 menembus level 3,55% year on year. Kombinasi ini mencerminkan adanya faktor basis yang memengaruhi perhitungan tahunan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa tingginya angka inflasi tahunan tersebut utamanya disebabkan oleh low base effect alias efek basis rendah. Ia mengingatkan adanya kebijakan diskon tarif listrik pada awal tahun sebelumnya.
“Ketika dilakukan perhitungan inflasi year on year, maka basis pembandingnya [Januari 2025] relatif rendah akibat adanya diskon listrik. Ini yang mendorong inflasi tahunan tampak tinggi pada Januari 2026,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin.
Sinyal The Fed Di Tengah Ketatnya Global
Dari eksternal, arah kebijakan suku bunga The Fed turut menjadi perhatian. Dalam proyeksi yang dirilis pada Desember, pejabat The Fed memperkirakan hanya akan ada satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 berdasarkan estimasi median. Namun pelaku pasar masih mengantisipasi dua kali penurunan.
The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 1,75% dalam satu setengah tahun terakhir, setelah menaikkan suku bunga lebih dari 5% sepanjang 2022 dan 2023. Saat ini, suku bunga The Fed berada pada kisaran 3,5% hingga 3,75%. Level tersebut dinilai mendekati posisi netral.
Sejumlah pejabat menilai level tersebut mendekati tingkat netral bagi perekonomian, sehingga menjadi alasan untuk memperlambat atau menghentikan pelonggaran kebijakan moneter. Pandangan ini mencerminkan sikap hati-hati dalam menjaga keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan.
"Level suku bunga sekarang pada dasarnya sudah berada di kisaran netral," ujar ekonom senior AS di Vanguard Group, Josh Hirt. Ia merujuk pada titik ketika kebijakan moneter tidak lagi menahan maupun mendorong pertumbuhan ekonomi, sehingga urgensi pemangkasan lanjutan menjadi berkurang.