FOLK Akuisisi 99 Persen Traya Multi Investama Perkuat Ekspansi Holding

Rabu, 18 Februari 2026 | 11:43:03 WIB
FOLK Akuisisi 99 Persen Traya Multi Investama Perkuat Ekspansi Holding

JAKARTA - Langkah ekspansi kembali ditegaskan PT Multi Garam Utama Tbk. melalui rencana aksi korporasi strategis pada awal 2026. 

Emiten berkode saham FOLK itu mengumumkan pengambilalihan hampir seluruh saham PT Traya Multi Investama. Strategi ini menjadi bagian dari transformasi perseroan sebagai holding multisektor yang agresif memperluas lini usaha.

Rencana tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi yang merujuk pada POJK No. 31 POJK.04 2015 jo. POJK 45 2024. Perseroan menyatakan bahwa ringkasan rencana pengambilalihan saham Traya Multi Investama telah diumumkan melalui surat kabar nasional pada 13 Februari 2026. Informasi ini sekaligus menegaskan keseriusan manajemen dalam menjalankan aksi korporasi tersebut.

Direktur Utama Danny Sutradewa menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Akuisisi diproyeksikan memperluas portofolio usaha sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, FOLK mempertegas arah bisnisnya sebagai investment holding yang dinamis.

Strategi Ekspansi Holding Multisektor

Dalam penjelasannya, manajemen menilai transaksi ini sebagai momentum penting memperkuat struktur usaha. FOLK berencana mengambil alih 99,96 persen atau sebanyak 2.499 saham Traya Multi Investama. Setelah transaksi efektif, komposisi kepemilikan akan menjadikan FOLK pemegang saham pengendali baru.

Struktur kepemilikan pasca transaksi akan terdiri atas FOLK sebesar 99,96 persen dan Danny Sutradewa sebesar 0,04 persen. Total saham yang tercatat mencapai 2.500 lembar. Komposisi tersebut menempatkan perseroan sebagai pengendali penuh entitas yang diakuisisi.

"Bahwa pelaksanaan Rencana Transaksi ini merupakan bagian dari strategi ekspansi Perseroan sebagai perusahaan holding multisektor untuk memperluas portofolio usaha dan menciptakan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan," tulis Danny di keterbukaan informasi, Rabu 18 Februari 2026. Pernyataan ini menegaskan arah ekspansi yang terukur.

Manajemen juga memastikan bahwa rencana pengambilalihan tersebut tidak menimbulkan dampak material terhadap kegiatan operasional. Selain itu, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan dinilai tetap terjaga. Kepastian ini menjadi bagian dari transparansi kepada investor.

Penguatan Struktur Permodalan Lewat Private Placement

Sebelumnya, FOLK juga memberi sinyal penguatan struktur permodalan melalui agenda aksi korporasi lain. Perseroan mengumumkan rencana rapat umum pemegang saham luar biasa yang digelar pada 12 Desember 2025. Agenda tersebut menjadi bagian dari fase awal ekspansi baru.

Direktur Utama Danny Sutradewa menyampaikan RUPSLB akan membahas dua agenda utama. Persetujuan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement serta perubahan susunan pengurus perseroan menjadi fokus utama pembahasan. Informasi tersebut disampaikan melalui keterbukaan di situs Bursa Efek Indonesia.

Langkah private placement dinilai sebagai upaya memperkuat struktur permodalan sekaligus membuka peluang masuknya investor strategis. Skema ini memungkinkan partisipasi investor institusional maupun grup konglomerasi. Dengan demikian, perusahaan memiliki fleksibilitas pendanaan untuk ekspansi lanjutan.

Dalam rencana tersebut, FOLK akan menerbitkan hingga 394,8 juta saham baru atau maksimal 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Dana hasil aksi korporasi akan digunakan untuk memperluas portofolio bisnis strategis. Fokus diarahkan pada pengembangan unit usaha digital, media, dan proyek properti.

Konsolidasi Ekosistem Bisnis Dan Investor Strategis

Pergerakan FOLK terjadi di tengah konsolidasi lebih luas dalam ekosistem bisnis Bong Chandra. Dinamika ini memperlihatkan integrasi antar entitas dalam satu jaringan usaha yang saling mendukung. Struktur holding memberi ruang ekspansi lintas sektor.

Sebagai bagian dari ekosistem tersebut, FOLK berperan sebagai investment holding. Perseroan mengelola berbagai lini usaha mulai dari media, gaya hidup, teknologi, hingga proyek properti. Posisi ini membuat FOLK dipandang strategis untuk menyerap pendanaan dalam skala besar.

Aksi private placement juga dinilai sebagai langkah persiapan menyambut investor besar. Pola ini lazim terjadi ketika perusahaan dengan ekosistem matang bersiap naik kelas melalui dukungan modal eksternal. Dengan tambahan dana, ruang ekspansi menjadi lebih terbuka.

Manajemen melihat strategi akuisisi dan penambahan modal sebagai dua sisi yang saling melengkapi. Akuisisi memperluas aset dan lini usaha, sementara private placement memperkuat fondasi keuangan. Kombinasi ini diarahkan untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.

Rekam Jejak IPO Dan Arah Pertumbuhan

FOLK sendiri melantai di bursa pada 7 Agustus 2023. Saat IPO, perseroan melepas 570 juta saham baru setara 14,44 persen dari modal ditempatkan. Harga penawaran sebesar Rp100 per saham membuat perusahaan menghimpun dana Rp57 miliar.

Penjamin pelaksana emisi efek saat IPO adalah KGI Sekuritas Indonesia dan Samuel Sekuritas Indonesia. Dana hasil penawaran umum menjadi modal awal pengembangan berbagai lini usaha. Sejak saat itu, perseroan aktif melakukan manuver ekspansi.

Langkah akuisisi Traya Multi Investama menandai kelanjutan strategi pertumbuhan tersebut. Tren emiten holding yang agresif menambah lini usaha menjadi latar belakang keputusan ini. FOLK berupaya menjaga momentum pertumbuhan melalui ekspansi terukur.

Secara keseluruhan, aksi korporasi ini mencerminkan transformasi FOLK sebagai holding multisektor yang semakin aktif. Dengan akuisisi hampir seluruh saham Traya Multi Investama dan rencana private placement, perusahaan menyiapkan fondasi pertumbuhan berkelanjutan. Strategi tersebut memperkuat posisi FOLK dalam peta persaingan bisnis nasional.

Terkini