Penjualan Otomotif EV Januari 2026 Turun 53 Persen Industri Berubah Arah

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:42:23 WIB
Penjualan Otomotif EV Januari 2026 Turun 53 Persen Industri Berubah Arah

JAKARTA - Pasar kendaraan listrik Indonesia memasuki 2026 dengan dinamika yang kontras. 

Setelah mencatat lonjakan signifikan di penghujung tahun lalu, penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle BEV justru terkoreksi tajam pada awal tahun. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai arah industri otomotif nasional ke depan.

Data menunjukkan penjualan BEV pada Januari 2026 tercatat 10.211 unit. Angka tersebut lebih rendah 53 persen dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 21.800 unit. Koreksi bulanan yang dalam ini terjadi setelah lonjakan besar pada akhir tahun yang didorong oleh pembelian besar-besaran menjelang berakhirnya insentif.

Meski terjadi penurunan secara bulanan, gambaran tahunan justru memperlihatkan pertumbuhan kuat. Volume penjualan Januari 2026 sekitar empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran 2.580 unit. Kondisi ini menandakan percepatan adopsi kendaraan listrik di dalam negeri tetap berlangsung.

Koreksi Pasca Berakhirnya Insentif

Pengamat Otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menilai koreksi tersebut lebih mencerminkan fase normalisasi pasar. Ia menyebut lonjakan pada akhir 2025 dipicu insentif PPN DTP yang kemudian berakhir. Ketika stimulus dihentikan, pasar kembali pada kondisi riilnya.

“Setelah berakhirnya insentif PPN DTP di akhir tahun 2025, yang membuat pasar kembali ke level normal dan segmen yang paling diuntungkan oleh insentif, yaitu BEV, langsung mengalami koreksi hingga 52,1% dibanding bulan sebelumnya.” kata Yannes kepada Bloomberg Technoz, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa penetrasi kendaraan listrik di Indonesia masih sangat bergantung pada dukungan fiskal pemerintah. Ketika faktor harga tidak lagi ditopang insentif, daya beli langsung mengalami penyesuaian.

“Saat insentif dicabut, pasar langsung menunjukkan reaksi kontraksi yang tajam membuktikan bahwa fundamental permintaan masih sangat tergantung pada dukungan harga dari pemerintah” kata Yannes.

Pertumbuhan Tahunan Tetap Kuat

Di balik koreksi bulanan, tren tahunan tetap memberikan sinyal positif. Penjualan yang melonjak empat kali lipat dibanding Januari tahun sebelumnya menunjukkan bahwa minat terhadap kendaraan listrik terus meningkat. Hal ini menandakan fondasi pasar mulai terbentuk meski belum sepenuhnya mandiri dari insentif.

Perkembangan infrastruktur pengisian daya serta semakin banyaknya pilihan model turut mendorong minat konsumen. Produsen juga semakin agresif menghadirkan kendaraan listrik dengan variasi harga dan fitur. Kombinasi faktor tersebut menjaga optimisme industri.

Pertumbuhan tahunan ini memperlihatkan bahwa elektrifikasi bukan sekadar tren sesaat. Meski fluktuatif secara bulanan, arah jangka panjang masih menunjukkan ekspansi. Industri otomotif dinilai tengah berada dalam fase transisi menuju struktur pasar baru.

Performa Model Baru Tetap Tinggi

Pada periode yang sama, sejumlah model baru tetap mencatatkan volume penjualan tinggi. BYD Atto 1 terjual 3.361 unit pada Januari. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu kontributor utama di segmen BEV awal tahun.

Selain itu, Jaecoo J5 mencatatkan penjualan sebanyak 1.942 unit. Capaian ini menunjukkan bahwa minat konsumen terhadap model tertentu masih cukup kuat meski insentif telah berakhir.

Yannes menjelaskan bahwa performa BYD tidak lepas dari faktor transisi pasca-insentif. Sebagian penjualan berasal dari stok unit yang batal dikirim pada Desember 2025. Selain itu, rencana perusahaan memulai produksi lokal di pabrik Subang membuat penyesuaian harga lebih fleksibel.

Sementara itu, Jaecoo memanfaatkan instrumen finansial berupa asuransi harga. Skema tersebut memungkinkan penggunaan slot harga lama untuk lebih dari 12.000 unit yang telah dipesan pada 2025. Proses akad pembayaran dan kredit dilakukan bertahap pada 2026 menyesuaikan kesiapan perakitan setelah masa insentif berakhir.

Potensi Persaingan Harga Akhir Tahun

Melihat dinamika saat ini, Yannes memprediksi situasi bisa kembali memanas di penghujung tahun. Produksi lokal kendaraan listrik yang mulai berjalan berpotensi menekan biaya dan memicu persaingan harga antar merek. Kondisi tersebut dapat menciptakan gelombang kompetisi baru di pasar domestik.

“Di penghujung tahun, situasi bisa kembali memanas seiring dimulainya produksi lokal EV dan potensi perang harga antar merek.” kata Yannes. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa fase koreksi saat ini belum tentu mencerminkan pelemahan permanen.

Industri otomotif Indonesia tampak sedang beradaptasi dengan perubahan kebijakan dan struktur biaya. Ketergantungan pada insentif masih menjadi tantangan utama. Namun di sisi lain, pertumbuhan tahunan yang kuat memberi sinyal bahwa pasar kendaraan listrik tetap memiliki prospek cerah.

Fluktuasi Januari 2026 dapat dipahami sebagai bagian dari proses penyesuaian. Jika produksi lokal dan efisiensi biaya berhasil ditekan, pasar berpeluang kembali tumbuh lebih stabil. Elektrifikasi tetap menjadi arah strategis, meski jalannya tidak selalu mulus dari bulan ke bulan.

Terkini