Garuda Indonesia Pimpin Holding BUMN Penerbangan Citilink Dan Pelita Air

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:21:35 WIB
Garuda Indonesia Pimpin Holding BUMN Penerbangan Citilink Dan Pelita Air

JAKARTA - Perubahan besar tengah disiapkan dalam lanskap industri penerbangan nasional. 

Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara merancang pembentukan holding BUMN penerbangan dengan struktur yang lebih terintegrasi. PT Garuda Indonesia Persero Tbk diproyeksikan menjadi induk yang menaungi entitas maskapai milik negara lainnya.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi konsolidasi agar sektor aviasi pelat merah lebih fokus, efisien, dan memiliki arah bisnis yang selaras. Dua maskapai yang akan berada di bawah struktur baru tersebut adalah Citilink dan Pelita Air. Proses restrukturisasi ini ditargetkan berjalan paralel dengan pembenahan BUMN di sektor lain.

Rencana Pembentukan Holding Penerbangan

Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria memastikan bahwa Garuda Indonesia akan menjadi induk holding maskapai. Struktur tersebut akan mengintegrasikan Citilink dan Pelita Air dalam satu kendali korporasi yang sama.

"Iya, Garuda Indonesia induk (holding maskapai), (di bawahnya) ada Citilink, ada Pelita," ujar Dony ditemui di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (10/2) malam.

Menurut Dony, langkah ini merupakan bagian dari desain besar konsolidasi BUMN agar lebih terstruktur. Dengan model holding, koordinasi operasional dan strategi bisnis diharapkan menjadi lebih efektif. Integrasi ini juga diyakini dapat memperkuat daya saing maskapai nasional di tengah ketatnya industri penerbangan global.

Percepatan Pemisahan Pelita Air

Salah satu tahapan penting dalam pembentukan holding adalah pemisahan Pelita Air dari PT Pertamina Persero. Perusahaan energi negara tersebut akan melepas seluruh bisnis non migasnya sebagai bagian dari fokus baru yang lebih spesifik pada sektor minyak dan gas.

Dony menyebut proses penggabungan Pelita Air ke dalam struktur Garuda Indonesia ditargetkan rampung pada kuartal pertama tahun ini. Tahapan administrasi dan korporasi tengah dipercepat agar integrasi berjalan sesuai jadwal.

"Garuda di kuartal I ini udah pindah, cepat mereka," katanya.

Pemisahan ini dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih fokus usaha antara Pertamina dan lini bisnis penerbangan. Dengan demikian, setiap BUMN dapat bergerak sesuai bidang inti masing masing tanpa terbebani diversifikasi yang tidak relevan.

Konsolidasi Paralel Lini Bisnis BUMN

Pembentukan holding maskapai bukan satu satunya agenda Danantara tahun ini. Pemerintah juga menjalankan konsolidasi menyeluruh di berbagai sektor BUMN lainnya secara paralel selama satu tahun penuh.

"Jadi paralel selama satu tahun ini kita lakukan proses konsolidasi ini. Jadi mulai dari yang paling dekat itu pasti IHC, rumah sakit ya kan, hotel, kemudian tadi airlines, asuransi lagi kita review, kemudian bisnis yang lainnya apa lagi, ada juga yang kita, apa namanya, divestasi, kemudian bisnis yang non-related, itu kita lakukan proses," jelas Dony.

Langkah tersebut menunjukkan adanya penataan ulang struktur BUMN agar lebih ramping dan fokus. Bisnis yang dianggap tidak berhubungan langsung dengan inti usaha akan ditinjau kembali, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk dilepas atau dialihkan ke entitas yang lebih sesuai.

Dalam konteks penerbangan, konsolidasi di bawah Garuda Indonesia diharapkan mampu menciptakan sinergi armada, rute, hingga strategi pemasaran. Integrasi Citilink dan Pelita Air juga dapat memperjelas segmentasi pasar, baik untuk layanan full service maupun low cost carrier.

Fokus Bisnis Agar Lebih Optimal

Transformasi ini didorong oleh keinginan pemerintah agar BUMN tidak lagi bergerak dengan struktur yang saling tumpang tindih. Setiap sektor akan dikelola secara lebih profesional sesuai bidang masing masing, mulai dari rumah sakit, perhotelan, asuransi, hingga minyak dan gas.

"Jadi memang nanti perusahaan BUMN kita tuh bagus-bagus nanti, rumah sakit sendiri, hotel sendiri, asuransi sendiri, oil and gas sendiri, airline sendiri. Jadi lebih baik, lebih proper," pungkasnya.

Dengan skema tersebut, maskapai pelat merah diharapkan dapat lebih fokus meningkatkan kualitas layanan, efisiensi operasional, serta kesehatan keuangan perusahaan. Garuda Indonesia sebagai induk holding akan memegang peran strategis dalam menentukan arah kebijakan dan ekspansi bisnis penerbangan nasional.

Kehadiran holding juga membuka peluang optimalisasi aset, termasuk pengelolaan armada, pemanfaatan slot penerbangan, serta koordinasi rute domestik dan internasional. Sinergi ini diyakini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar penerbangan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, proses restrukturisasi tentu membutuhkan pengawasan ketat agar berjalan sesuai tata kelola perusahaan yang baik. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh tahapan dilakukan secara terukur dan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang industri aviasi nasional.

Jika target kuartal pertama dapat tercapai, maka 2026 akan menjadi momentum penting bagi transformasi maskapai BUMN. Integrasi Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air dalam satu payung holding menandai babak baru pengelolaan penerbangan nasional yang lebih terarah dan terkoordinasi.

Langkah ini sekaligus mempertegas komitmen pemerintah dalam membenahi struktur BUMN secara menyeluruh. Dengan fokus bisnis yang jelas dan pembagian peran yang tegas, diharapkan setiap entitas mampu tumbuh lebih sehat, kompetitif, dan berkontribusi maksimal bagi perekonomian nasional.

Terkini