IHSG Dibuka Menguat 0,16 Persen Sentuh Level 8.303 Pagi Ini

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:21:29 WIB
IHSG Dibuka Menguat 0,16 Persen Sentuh Level 8.303 Pagi Ini

JAKARTA - Pergerakan pasar saham domestik kembali menunjukkan geliat positif pada awal perdagangan Kamis, 12 Februari 2026. 

Setelah melalui sejumlah dinamika eksternal dan internal, Indeks Harga Saham Gabungan melanjutkan tren penguatan yang sudah terlihat sejak sesi sebelumnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pagi ini, Kamis. IHSG dibuka naik 12,88 poin atau 0,16% ke level 8.303,85. Kenaikan ini menjadi sinyal awal optimisme pelaku pasar.

Sentimen yang berkembang tidak hanya bersumber dari pergerakan teknikal, tetapi juga dari berbagai langkah kebijakan dan komunikasi yang dilakukan otoritas. Investor mencermati berbagai agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar ke depan.

Aktivitas perdagangan di awal sesi turut mencerminkan respons pelaku pasar terhadap isu isu strategis tersebut.

Pergerakan Saham Dan Kapitalisasi Pasar

Sebanyak 377 saham naik, 99 turun, dan 482 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 557,5 miliar, melibatkan 1,09 miliar saham dalam 75.180 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 15.097 trilun.

Komposisi tersebut memperlihatkan dominasi saham yang bergerak di zona hijau. Hal ini memperkuat indikasi bahwa pelaku pasar masih menyimpan optimisme terhadap prospek jangka pendek.

Peningkatan kapitalisasi pasar turut menjadi cerminan bertambahnya nilai perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia. Likuiditas yang terjaga memberi ruang bagi investor untuk melakukan reposisi portofolio.

Adapun perhatian utama para pelaku pasar hari ini tertuju pada upaya pemulihan kepercayaan investor global menyusul serangkaian tekanan terhadap integritas pasar modal serta penyesuaian pandangan lembaga pemeringkat internasional terhadap prospek utang Indonesia.

Pertemuan BEI Dan MSCI Jadi Sorotan

Bursa Efek Indonesia atau BEI kembali mengambil langkah proaktif dengan mengadakan pertemuan lanjutan bersama penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International atau MSCI, pada Rabu (11/2/2026).

Pertemuan ini menjadi sangat krusial mengingat status pasar modal Indonesia yang tengah mengalami pembekuan penyesuaian indeks oleh MSCI akibat isu transparansi. Situasi ini menjadi perhatian serius regulator.

Dalam diskusi tertutup tersebut, Direktur Pengembangan Bisnis BEI, Jeffrey Hendrik, memaparkan detail dari tiga rencana aksi utama yang dirancang untuk menjawab kekhawatiran investor global. Tujuan utama dari rencana tersebut adalah peningkatan keterbukaan informasi mengenai struktur kepemilikan saham emiten.

Upaya ini diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan pasar internasional sekaligus memperkuat tata kelola pasar modal domestik.

Rencana Shareholders Concentration List

Salah satu inisiatif penting yang dibahas adalah rencana penerbitan shareholders concentration list atau daftar saham yang terindikasi memiliki pola kepemilikan terkonsentrasi.

Mekanisme ini mengadopsi praktik yang telah diterapkan di bursa saham Hong Kong, di mana tujuannya adalah memberikan peringatan dini kepada publik mengenai saham saham dengan porsi kepemilikan publik yang terbatas.

BEI menargetkan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas satu persen akan mulai dipublikasikan pada akhir Februari atau awal Maret mendatang, bersamaan dengan peluncuran daftar risiko konsentrasi pemegang saham tersebut.

Selain itu, BEI juga menyampaikan progres penyediaan data investor yang lebih terperinci atau granular, yang direncanakan dapat diakses pada akhir Maret. Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa pertemuan dengan MSCI ini memang bersifat tertutup karena masih banyak detail teknis yang perlu diselaraskan.

Namun, seluruh proposal perbaikan yang disampaikan kepada MSCI nantinya juga akan didistribusikan kepada penyedia indeks global lainnya serta kepada publik. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan integritas pasar dan memastikan implementasi aturan free float sebesar 15% dapat berjalan efektif guna meningkatkan kualitas pasar modal domestik.

Respons Pemerintah Terhadap Outlook Moody’s

Beralih ke sektor fiskal, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap laporan terbaru dari lembaga pemeringkat Moody's yang menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari Stabil menjadi Negatif.

Sebagai respons cepat, Presiden memerintahkan jajaran menteri ekonominya untuk menggelar acara "Indonesia Economic Outlook" pada Jumat (13/2/2026). Agenda ini menjadi bagian dari strategi komunikasi pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa forum ini ditujukan untuk memberikan klarifikasi menyeluruh kepada lembaga pemeringkat internasional, termasuk Moody's, Fitch, dan S&P, mengenai fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

Dalam forum tersebut, pemerintah berencana memaparkan strategi konkret terkait penerimaan negara yang diproyeksikan akan meningkat, serta menjelaskan rencana pembentukan dan operasional Danantara.

Penjelasan mengenai Danantara dianggap penting karena lembaga ini diharapkan menjadi motor baru dalam pengelolaan aset negara yang dapat mendukung ketahanan fiskal jangka panjang. Airlangga menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk menjawab keraguan pasar dan lembaga pemeringkat terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola risiko fiskal dan menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global.

Dengan kombinasi penguatan IHSG di awal sesi, langkah reformasi dari BEI, serta komunikasi aktif pemerintah kepada lembaga pemeringkat, pelaku pasar kini menantikan konsistensi implementasi kebijakan. Kepercayaan investor menjadi kunci agar penguatan indeks dapat berlanjut secara berkelanjutan.

Terkini