JAKARTA - Pasar aset kripto kembali menghadapi tekanan tajam dalam 24 jam terakhir.
Bitcoin (BTC), sebagai aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, melemah signifikan ke level 68.819,50 dollar AS pada perdagangan Rabu. Volume transaksi tercatat tinggi, mencapai 40,51 miliar dollar AS, dengan suplai beredar 19,98 juta BTC dari total suplai maksimum 21 juta BTC.
Secara mingguan, kinerja Bitcoin menunjukkan koreksi 8,84 persen, sedangkan penurunan bulanan tercatat 24,13 persen. Dalam tiga bulan terakhir, BTC bahkan melemah hingga 32,33 persen. Year to date (YTD), aset kripto nomor satu ini turun 22,40 persen, menandakan volatilitas tinggi yang masih membayangi pasar.
Meskipun terkoreksi, Bitcoin tetap mendominasi pasar kripto dengan kapitalisasi sebesar 1,37 triliun dollar AS. Valuasi fully diluted tercatat 1,44 triliun dollar AS, menegaskan posisi BTC sebagai aset acuan utama di tengah gejolak pasar.
Ethereum dan Aset Kripto Lainnya Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga menular ke aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) turun 4,12 persen ke level 2.020,22 dollar AS, menunjukkan korelasi yang erat dengan pergerakan BTC.
Solana (SOL) melemah 4,01 persen ke posisi 83,13 dollar AS, sementara XRP terkoreksi 2,49 persen ke level 1,401 dollar AS. BNB berada di 619,79 dollar AS, turun 2,62 persen, sedangkan Dogecoin (DOGE) menurun 3,57 persen ke posisi 0,09275 dollar AS.
Koreksi pada aset kripto utama ini mencerminkan risiko sistemik dan ketergantungan harga token terhadap dominasi Bitcoin. Investor kripto semakin waspada terhadap fluktuasi pasar, terutama dalam jangka pendek.
Faktor Tekanan Pasar Kripto
Salah satu faktor utama pelemahan pasar adalah penguatan dolar AS. Dolar yang lebih kuat membuat aset kripto lebih mahal bagi investor global yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan.
Selain itu, sentimen risiko global juga berperan. Kekhawatiran terkait regulasi aset kripto di berbagai negara, serta tekanan makroekonomi dari pasar saham dan suku bunga, mendorong investor melakukan aksi jual.
Likuiditas tinggi di pasar kripto juga memicu volatilitas. Transaksi besar, baik oleh investor institusi maupun ritel, dapat memperbesar pergerakan harga dalam waktu singkat, terutama pada aset kripto yang lebih kecil.
Analisis Mingguan dan Bulanan Bitcoin
Secara mingguan, Bitcoin terkoreksi 8,84 persen. Koreksi ini diperparah dalam 30 hari terakhir dengan penurunan 24,13 persen, dan 90 hari terakhir mencapai 32,33 persen. Data ini menegaskan volatilitas tinggi di pasar kripto yang belum menunjukkan tanda stabilisasi.
Year to date (YTD), BTC masih melemah 22,40 persen. Tren ini menunjukkan bahwa investor perlu berhati-hati, terutama bagi mereka yang menggunakan leverage tinggi dalam perdagangan futures atau margin trading.
Prospek Jangka Pendek Pasar Kripto
Meski terkoreksi, Bitcoin tetap menjadi aset kripto acuan dengan kapitalisasi terbesar. Investor institusi dan ritel masih memantau peluang jangka menengah dan panjang, terutama saat harga mendekati level support psikologis.
Aset kripto lain seperti Ethereum, Solana, BNB, dan XRP kemungkinan akan mengikuti pergerakan Bitcoin. Korelasi ini menandakan bahwa fluktuasi harga BTC menjadi indikator sentimen pasar secara keseluruhan.
Kondisi pasar yang bergejolak ini menuntut strategi manajemen risiko yang baik. Diversifikasi portofolio, pemantauan harga secara real-time, serta pemahaman fundamental proyek kripto menjadi kunci bagi investor agar tidak terjebak volatilitas tinggi.
Kesimpulan dan Saran Investor
Pasar kripto masih menunjukkan volatilitas ekstrem. Penurunan harga Bitcoin dan aset utama lainnya menegaskan risiko tinggi bagi investor jangka pendek. Namun, dominasi BTC tetap menegaskan peranannya sebagai aset acuan dan safe haven di dunia kripto.
Investor disarankan melakukan riset mendalam sebelum membeli atau menjual aset kripto. Pemahaman terhadap sentimen pasar, faktor makroekonomi, dan risiko likuiditas menjadi sangat penting agar keputusan investasi lebih terukur.
Koreksi harga saat ini juga bisa menjadi peluang bagi investor yang bersikap strategis, memanfaatkan volatilitas untuk membeli pada level undervalued, sambil tetap menjaga eksposur risiko secara ketat.