JAKARTA - Kemenangan dramatis Manchester City di markas Liverpool menjadi sinyal kuat bahwa persaingan gelar Liga Inggris musim ini belum mencapai titik akhir.
Pep Guardiola menegaskan timnya masih berada dalam jalur perebutan trofi, sekaligus mengirim pesan kewaspadaan kepada Arsenal yang saat ini berada di puncak klasemen. Menurut sang manajer, selisih poin belum cukup aman untuk memastikan apa pun di fase krusial musim.
Manchester City sukses menundukkan Liverpool 2-1 di Anfield pada Minggu malam WIB. Hasil tersebut membuat jarak dengan Arsenal terpangkas menjadi enam poin, sekaligus menjaga tekanan tetap terasa di papan atas. City bangkit lewat dua gol telat yang dicetak Bernardo Silva dan Erling Haaland, setelah sebelumnya tertinggal akibat gol Dominik Szoboszlai.
Kemenangan ini juga memiliki nilai historis bagi City. Untuk pertama kalinya dalam 89 tahun, mereka mampu mencatat kemenangan kandang dan tandang atas Liverpool dalam satu musim liga. Catatan tersebut memperkuat keyakinan Guardiola bahwa timnya masih memiliki mental dan kualitas untuk bersaing hingga akhir kompetisi.
Kemenangan di Anfield Jaga Asa Manchester City
Pep Guardiola melihat kemenangan di Anfield sebagai momen penting dalam perjalanan City musim ini. Selain sulitnya bermain di markas Liverpool, City juga harus menghadapi tekanan besar setelah tertinggal lebih dulu. Cara timnya membalikkan keadaan di menit-menit akhir menjadi bukti ketangguhan mental skuad.
Guardiola menilai tambahan tiga poin ini sangat berarti untuk menjaga peluang juara tetap hidup. Selisih enam poin dari Arsenal memang tidak kecil, tetapi masih memungkinkan untuk dikejar dengan sisa pertandingan yang ada. City bahkan berpeluang memangkas jarak menjadi tiga poin jika mampu mengalahkan Fulham pada laga tengah pekan.
Di sisi lain, Arsenal dijadwalkan menjalani laga tandang ke markas Brentford. Kombinasi hasil dari dua pertandingan tersebut berpotensi kembali mengubah dinamika persaingan di papan atas Liga Inggris.
Banyak Faktor Penentu di Sisa Musim
Guardiola menekankan bahwa fase akhir musim selalu penuh ketidakpastian. Jadwal padat, tekanan mental, serta keterlibatan tim di berbagai kompetisi lain bisa memengaruhi performa. City sendiri masih harus membagi fokus antara liga, Piala FA, final Carabao Cup, dan Liga Champions yang kembali bergulir pada Maret.
Menurut Guardiola, pengalaman menghadapi situasi seperti ini menjadi salah satu kekuatan City. Ia mengingatkan bahwa dalam 13 laga tersisa, banyak hal bisa terjadi, termasuk cedera pemain atau hasil mengejutkan dari tim lain yang sedang berjuang menghindari degradasi atau mengejar tiket Eropa.
"Kami tertinggal enam poin. Oke, itu jarak yang besar, tetapi banyak hal bisa terjadi, jadi lebih baik mengamankan tiga poin," kata Guardiola.
"Siapa yang tahu enam poin cukup atau tidak, masih ada 13 laga, Piala FA akan datang, final Carabao Cup juga, Liga Champions kembali pada Maret, cedera bisa terjadi, ada tim berebut tiket Eropa dan tim berjuang dari degradasi; dari pengalaman 13 laga itu waktu yang panjang, fase ini sulit, yang penting kami tetap di sana, menekan Arsenal, memanfaatkan jika mereka terpeleset, dan kami harus mengalahkan mereka di kandang," tutur Guardiola.
Tekanan untuk Arsenal di Puncak Klasemen
Pernyataan Guardiola secara tidak langsung memberi peringatan kepada Arsenal bahwa keunggulan mereka belum sepenuhnya aman. Dengan City terus menempel, setiap kesalahan kecil bisa berdampak besar pada perburuan gelar. Tekanan sebagai pemimpin klasemen kerap menghadirkan tantangan tersendiri, terutama ketika pesaing utama terus meraih kemenangan.
Guardiola menilai tim yang berada di puncak harus mampu menjaga konsistensi dan fokus penuh pada setiap pertandingan. Ia juga menegaskan bahwa City akan terus menekan Arsenal hingga akhir musim, sembari menunggu peluang jika rival terpeleset.
Pengalaman City dalam perebutan gelar di musim-musim sebelumnya menjadi faktor penting. Guardiola percaya hal tersebut bisa menjadi pembeda ketika kompetisi memasuki fase paling menentukan.
Kontroversi VAR Warnai Laga di Anfield
Selain drama gol telat, laga Liverpool melawan Manchester City juga diwarnai kontroversi keputusan VAR. Gol jarak jauh Rayan Cherki dianulir setelah tinjauan terkait duel tarik-menarik antara Erling Haaland dan Dominik Szoboszlai dalam situasi bola mati.
Wasit VAR John Brooks menjelaskan bahwa pelanggaran Haaland menjadi titik awal keputusan, sehingga gol tersebut tidak dapat disahkan. Wasit kemudian memberikan tendangan bebas untuk City dan kartu merah kepada Szoboszlai.
Keputusan tersebut menuai perdebatan, termasuk dari Guardiola sendiri. Ia menganggap insiden tarik-menarik seperti itu sering kali dibiarkan dalam pertandingan dan seharusnya tidak membatalkan gol.
"Masuk akal, bukan? Berapa banyak tarikan di permainan yang dibiarkan wasit," ujar Guardiola.
"Seharusnya gol disahkan, lanjutkan saja permainan dan biarkan Szoboszlai tetap bermain," ucap Guardiola.
City Fokus Menekan Hingga Akhir Musim
Terlepas dari kontroversi, Guardiola menegaskan fokus utama City adalah menjaga konsistensi hasil. Ia menilai tekanan berkelanjutan terhadap Arsenal menjadi strategi terbaik untuk menjaga peluang juara tetap terbuka.
Dengan jadwal padat dan persaingan di berbagai kompetisi, Guardiola menyadari tantangan yang dihadapi timnya tidak ringan. Namun, kemenangan di Anfield memberikan dorongan moral besar bagi skuadnya untuk menghadapi sisa musim.
Guardiola menutup dengan pesan tegas bahwa perburuan gelar Liga Inggris masih jauh dari kata selesai. Selama jarak poin masih bisa dikejar, Manchester City akan terus menekan dan memanfaatkan setiap peluang yang ada.