IHSG Awal Pekan Tertekan Investor Cermati Sentimen Global Domestik Pasar Saham

Senin, 09 Februari 2026 | 10:21:51 WIB
IHSG Awal Pekan Tertekan Investor Cermati Sentimen Global Domestik Pasar Saham

JAKARTA - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mengawali pekan dengan tekanan. 

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG langsung bergerak di zona merah sejak pembukaan perdagangan Senin, 9 Februari 2026. Pelemahan ini mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati, seiring banyaknya sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya mereda.

Pada awal sesi, IHSG tercatat dibuka melemah 0,72 persen. Tekanan jual langsung terlihat sejak menit-menit awal perdagangan, menandakan pelaku pasar masih cenderung defensif. Kondisi ini juga memperpanjang tren volatilitas yang telah terjadi sepanjang pekan sebelumnya.

IHSG Melemah Sejak Pembukaan Perdagangan

Pada pukul 09.15 WIB, IHSG berada di level 7.878,364. Posisi ini menunjukkan penurunan sebesar 56,896 poin atau setara 0,72 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Padahal, saat pembukaan pasar, IHSG sempat berada di level 7.970,022 sebelum akhirnya bergerak fluktuatif.

Dalam pergerakan awal, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 7.983,612. Namun, tekanan jual kembali muncul sehingga indeks turun hingga menyentuh level terendah di 7.863,006. Rentang pergerakan yang cukup lebar tersebut mencerminkan dinamika pasar yang masih diwarnai tarik-menarik antara aksi beli dan jual.

Fluktuasi ini juga memperlihatkan bahwa pasar belum menemukan arah yang benar-benar solid. Investor masih menunggu kejelasan lanjutan dari berbagai sentimen yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG ke depan.

Aktivitas Transaksi dan Pergerakan Saham

Berdasarkan data RTI Business, volume transaksi perdagangan pada pagi hari mencapai 5,222 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp2,426 triliun, mencerminkan aktivitas perdagangan yang relatif aktif meskipun indeks berada dalam tekanan.

Dari sisi frekuensi, transaksi tercatat sebanyak 320.931 kali. Angka ini menunjukkan bahwa minat pelaku pasar untuk melakukan transaksi masih cukup tinggi, meski mayoritas saham bergerak di zona merah.

Pergerakan saham didominasi oleh pelemahan. Sebanyak 396 saham tercatat turun, sementara hanya 171 saham yang mampu menguat. Di sisi lain, terdapat 146 saham yang bergerak stagnan. Kondisi ini menggambarkan bahwa tekanan jual cukup merata di berbagai sektor saham.

Kapitalisasi pasar pada awal perdagangan hari ini tercatat sebesar Rp14.277,806 triliun. Nilai tersebut sedikit tergerus seiring pelemahan indeks, namun secara umum masih mencerminkan besarnya nilai pasar saham domestik.

Pandangan Analis MNC Sekuritas terhadap IHSG

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai IHSG masih memiliki peluang untuk mencatatkan penguatan terbatas. Menurutnya, secara teknikal IHSG memiliki level support di area 7.854 dan resistance di level 8.214.

“Untuk Senin, IHSG masih berpeluang menguat terbatas. Namun investor masih akan mencermati perkembangan lanjutan terkait MSCI, downgrade dari sejumlah institusi asing, serta pergerakan harga komoditas dunia,” ujar Herditya dikutip Kontan.

Ia menjelaskan bahwa sentimen dari MSCI masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. MSCI menyoroti aspek free float dan transparansi emiten, yang dinilai berpotensi memengaruhi minat investor asing terhadap pasar saham Indonesia. Situasi ini membuat aliran dana asing cenderung lebih berhati-hati.

Dalam kondisi tersebut, Herditya menyebutkan beberapa saham yang dapat dicermati pada perdagangan awal pekan. Saham AMRT direkomendasikan di kisaran Rp1.935 hingga Rp1.995, AUTO di rentang Rp2.700 sampai Rp2.790, serta NCKL pada kisaran Rp1.385 hingga Rp1.430.

Tekanan Asing dan Isu MSCI Masih Dominan

Pandangan serupa disampaikan Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda. Ia menilai IHSG masih bergerak terbatas dengan kecenderungan volatil yang cukup tinggi. Menurutnya, level support IHSG berada di area 7.700 hingga 7.858, sementara resistance berada di kisaran 8.050 sampai 8.200.

“Sentimen dominan masih berasal dari tekanan jual investor asing, seiring berlanjutnya isu MSCI serta penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat dan sejumlah investment bank global. Kondisi ini membuat pasar cenderung berada dalam fase risk-off,” jelas Reza.

Ia menambahkan bahwa tekanan dari investor asing membuat pelaku pasar domestik cenderung lebih selektif dalam mengambil posisi. Sikap risk-off ini juga tercermin dari pelemahan yang terjadi di berbagai sektor saham sejak awal perdagangan.

Sentimen Domestik dan Global Jadi Sorotan

Dari sisi domestik, Reza menilai pelaku pasar akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting. Data consumer confidence, penjualan ritel, hingga penjualan kendaraan bermotor dinilai akan menjadi indikator awal untuk membaca kekuatan daya beli masyarakat serta momentum konsumsi domestik.

Sementara itu, dari sisi global, perhatian investor tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data seperti Non-Farm Payrolls, tingkat pengangguran, dan inflasi diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan moneter global dan pergerakan pasar keuangan.

Selain data ekonomi, perkembangan geopolitik global juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Agenda diskusi antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berpotensi memengaruhi sentimen pasar, terutama jika memicu peningkatan tensi geopolitik.

Strategi Investor di Tengah Volatilitas Pasar

Dalam kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian, Reza menyarankan investor untuk menerapkan strategi selektif dan defensif. Investor disarankan fokus pada saham-saham dengan valuasi relatif terdiskon, fundamental yang solid, serta dividend yield yang menarik.

Ia juga menekankan pentingnya manajemen risiko yang disiplin, mengingat volatilitas pasar masih cukup tinggi. Strategi ini dinilai lebih relevan dibandingkan mengambil risiko agresif di tengah kondisi pasar yang belum stabil.

“Untuk menghadapi pekan depan, saham-saham seperti PTBA, UNVR, dan ACES dapat dipertimbangkan karena memiliki kombinasi fundamental yang relatif kuat dan lebih defensif di tengah volatilitas pasar,” pungkas Reza.

Sebagai catatan, IHSG pada pekan lalu memang mengalami tekanan cukup signifikan. Pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, IHSG ditutup melemah 2,08 persen atau turun 168,62 poin ke level 7.935,26. Sentimen eksternal dan kehati-hatian investor asing masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan indeks hingga awal pekan ini.=

Terkini