Harga Bitcoin Anjlok ke US$60000 Dipicu Tekanan Leverage Sentimen Global Dan Psikologi Pasar

Senin, 09 Februari 2026 | 10:21:49 WIB
Harga Bitcoin Anjlok ke US$60000 Dipicu Tekanan Leverage Sentimen Global Dan Psikologi Pasar

JAKARTA - Penurunan harga Bitcoin hingga menyentuh area US$60.000 menjadi perhatian besar pelaku pasar kripto global. 

Koreksi ini terjadi tanpa satu pemicu tunggal yang dominan, berbeda dari kejatuhan-kejatuhan besar sebelumnya. Situasi tersebut membuat investor sulit menentukan titik terendah harga, sekaligus menandai fase pasar yang penuh tekanan dari berbagai arah.

Matthew Sigel, Head of Digital Asset Research di VanEck, menilai pelemahan Bitcoin kali ini merupakan hasil dari akumulasi beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan. Kombinasi tekanan leverage, perubahan sentimen teknologi, hingga psikologi siklus pasar membuat pergerakan harga menjadi lebih kompleks dan berlapis. Kondisi ini menciptakan dinamika baru yang patut dicermati investor.

Berbeda dengan periode koreksi besar sebelumnya seperti runtuhnya FTX, larangan penambangan kripto di China, atau kolapsnya Terra, penurunan kali ini tidak memiliki satu peristiwa sentral. Menurut Sigel, meski hal ini menyulitkan dalam memprediksi dasar harga, kondisi tersebut justru berpotensi menghadirkan pemulihan yang lebih sehat dalam jangka menengah hingga panjang.

Mengutip DLNews, terdapat lima faktor utama yang menekan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir. Faktor-faktor ini saling beririsan dan memperkuat tekanan pasar secara keseluruhan, sehingga membuat Bitcoin kehilangan momentum kenaikannya.

Tekanan Deleveraging di Pasar Derivatif

Salah satu faktor paling signifikan adalah proses deleveraging besar-besaran di pasar derivatif Bitcoin. Data Coinglass menunjukkan minat terbuka atau open interest kontrak berjangka Bitcoin turun tajam menjadi sekitar US$49 miliar dari sebelumnya US$61 miliar hanya dalam waktu satu pekan. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya posisi leverage di pasar.

Secara persentase, terjadi pemangkasan lebih dari 20% posisi berbasis utang. Bahkan, jika dibandingkan dengan puncaknya di awal Oktober yang sempat menembus US$90 miliar, pasar telah menghapus lebih dari 45% leverage. Kondisi ini menunjukkan investor dan trader memilih mengurangi risiko di tengah ketidakpastian.

Penurunan leverage ini berjalan seiring dengan koreksi harga Bitcoin. Menurut Sigel, hal ini menandakan pelemahan terjadi secara bertahap dan relatif terkontrol, bukan akibat likuidasi paksa besar-besaran yang biasanya memicu kejatuhan tajam. Dalam sepekan terakhir, total likuidasi pasar kripto diperkirakan mencapai US$3–4 miliar, dengan sekitar US$2–2,5 miliar berasal dari kontrak berjangka Bitcoin.

Memudarnya Optimisme Terhadap Euforia AI

Faktor kedua datang dari meredupnya euforia terhadap sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Investor mulai mempertanyakan apakah perusahaan seperti OpenAI dan penyedia layanan cloud benar-benar mampu menghasilkan keuntungan sebanding dengan belanja infrastruktur yang sangat besar.

Ketidakpastian ini turut berdampak pada sektor penambangan Bitcoin. Banyak perusahaan mining sebelumnya mengalihkan sebagian bisnisnya ke AI dan high-performance computing, dengan harapan memanfaatkan fasilitas dan sumber daya yang dimiliki. Namun, ketika pendanaan mengetat dan harga Bitcoin turun, strategi tersebut tidak berjalan semulus yang diharapkan.

Akibatnya, sejumlah miner terpaksa menjual Bitcoin untuk menjaga arus kas dan kesehatan neraca keuangan. Tekanan jual dari para penambang ini menambah suplai Bitcoin di pasar spot, tepat pada saat sentimen investor sedang rapuh dan minat beli menurun.

Isu Tata Kelola Kembali Membayangi Industri

Kekhawatiran mengenai tata kelola kembali mencuat dan menjadi faktor penekan berikutnya. Proyek kripto World Liberty Finance yang dikaitkan dengan keluarga Trump memicu sorotan terkait transparansi dan praktik pelaporan di industri kripto.

Laporan Wall Street Journal menyebutkan proyek tersebut menjual hampir setengah kepemilikannya kepada investor yang terkait dengan Uni Emirat Arab, dengan nilai sekitar US$500 juta. Namun, detail transaksi tersebut tidak diungkapkan secara jelas kepada publik.

Menurut Sigel, kasus semacam ini justru menegaskan pentingnya aturan transparansi dan standar pelaporan yang lebih ketat. Ketidakjelasan informasi dinilai dapat menggerus kepercayaan investor dan memperburuk sentimen pasar, terutama di tengah kondisi harga yang sedang tertekan.

Bayang-Bayang Risiko Quantum Computing

Perkembangan teknologi quantum computing juga ikut memberi tekanan pada sentimen pasar Bitcoin. Secara teori, komputer kuantum berpotensi memecahkan sistem enkripsi yang menjadi fondasi keamanan jaringan Bitcoin.

Laporan dari Chaincode Labs menyebutkan sekitar 20% hingga 50% Bitcoin yang beredar dapat berisiko jika teknologi quantum computing benar-benar matang dan dapat diterapkan secara luas. Meski banyak pengembang Bitcoin menilai ancaman ini belum bersifat mendesak, kekhawatiran investor terus meningkat.

Menariknya, saham-saham perusahaan yang bergerak di bidang quantum computing juga mengalami koreksi. Hal ini sejalan dengan pelemahan aset-aset berisiko secara umum, menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam fase penyesuaian risiko yang luas.

Pengaruh Psikologi Siklus Empat Tahunan

Faktor terakhir yang tak kalah penting adalah psikologi siklus empat tahunan Bitcoin. Secara historis, pergerakan Bitcoin sering dikaitkan dengan peristiwa halving yang terjadi setiap empat tahun sekali.

Setelah halving, pasokan Bitcoin baru berkurang dan harga biasanya mengalami kenaikan signifikan. Namun, fase tersebut sering diikuti oleh aksi ambil untung, sebelum pasar masuk ke periode bearish. Menurut Sigel, narasi siklus ini masih sangat memengaruhi perilaku investor, meskipun pergerakan dari puncak ke dasar harga jarang berlangsung lurus.

Meski tekanan datang dari berbagai arah, Sigel justru melihat peluang di balik koreksi ini. Ia menilai reset leverage dan penurunan harga membuat level saat ini semakin menarik untuk akumulasi jangka menengah hingga panjang.

“Saya mulai menambah kepemilikan Bitcoin spot hari ini,” tulis Sigel. Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinannya bahwa tekanan saat ini dapat menjadi fondasi bagi pemulihan yang lebih sehat dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Terkini