Rupiah Menguat Awal Pekan Seiring Tekanan Dolar AS dan Sentimen Global

Senin, 09 Februari 2026 | 10:21:43 WIB
Rupiah Menguat Awal Pekan Seiring Tekanan Dolar AS dan Sentimen Global

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal pekan dengan arah yang lebih positif. 

Setelah mengalami tekanan pada akhir pekan lalu, rupiah mulai menunjukkan pemulihan seiring melemahnya dolar Amerika Serikat di pasar global. Kondisi ini memberi ruang bagi mata uang domestik untuk bergerak menguat, meskipun pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen lanjutan.

Pada pembukaan perdagangan Senin, 9 Februari 2026, rupiah terapresiasi tipis terhadap dolar AS. Penguatan ini mencerminkan perubahan sikap investor yang mulai merespons dinamika eksternal dan internal secara lebih seimbang. Meski demikian, pasar menilai pergerakan rupiah masih bersifat hati-hati dan rentan terhadap perubahan sentimen.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menguat 0,03% ke level Rp16.855 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan Jumat (6/2/2026), rupiah melemah 0,21% ke posisi Rp16.860 per dolar AS, yang menjadi level terlemah dalam dua pekan terakhir atau sejak 22 Januari 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan rupiah lebih bersifat koreksi teknikal setelah tekanan sebelumnya. Investor masih memerlukan katalis yang lebih kuat untuk mendorong penguatan yang berkelanjutan.

Dolar AS Melemah di Awal Pekan

Penguatan rupiah tidak lepas dari pergerakan dolar AS yang melemah di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau berada di zona merah pada awal perdagangan Asia.

Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS tercatat melemah 0,10% ke level 97,542. Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Jumat (6/2/2026), ketika DXY ditutup turun 0,2%. Tekanan pada dolar AS memberikan ruang bagi mata uang lain, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.

Pelemahan dolar AS terjadi menjelang rangkaian rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Pelaku pasar cenderung menahan posisi dan menunggu kepastian data sebelum mengambil langkah agresif.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan pertama pekan ini masih sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS di pasar global.

Menanti Data Ekonomi Amerika Serikat

Dari sisi eksternal, perhatian investor tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar dalam waktu dekat. Data penjualan ritel, inflasi, hingga laporan tenaga kerja menjadi fokus utama pasar.

Sebagian data tersebut sebelumnya tertunda dan dijadwalkan akan dirilis pada Rabu mendatang. Data-data ini dinilai krusial untuk membaca kekuatan ekonomi AS dan arah kebijakan moneter The Federal Reserve ke depan.

Jika data menunjukkan pelemahan ekonomi, dolar AS berpotensi kembali tertekan. Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan bisa mendorong penguatan dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung berhati-hati dan menjaga posisi menjelang rilis data penting tersebut.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Selain data ekonomi, sentimen lain yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Federal Reserve. Pasar mulai menambah taruhan bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga tahun ini.

Kontrak Fed funds futures kini mencerminkan probabilitas 19,9% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya pada 17–18 Maret. Angka ini meningkat dibandingkan probabilitas 18,4% yang tercatat pada Jumat, mengacu pada CME Group FedWatch Tool.

Meningkatnya peluang pemangkasan suku bunga biasanya berdampak negatif bagi dolar AS. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan rupiah di awal pekan.

Namun demikian, ekspektasi tersebut masih sangat bergantung pada data ekonomi yang akan dirilis. Perubahan kecil pada data dapat menggeser ekspektasi pasar secara signifikan.

Faktor Domestik Ikut Menentukan Arah Rupiah

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia periode Januari 2026. Data ini dijadwalkan dirilis hari ini dan dinilai penting untuk membaca optimisme rumah tangga di awal tahun.

Konsensus pasar memperkirakan IKK Januari berada di level 123,9, sedikit menguat dibandingkan Desember 2025 yang tercatat di level 123,5. Kenaikan tipis ini diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.

Pada bulan sebelumnya, keyakinan konsumen sempat turun tipis dari 124,0 pada November, yang merupakan level tertinggi dalam sembilan bulan. Penurunan tersebut terjadi seiring melemahnya sebagian subindeks pembentuk survei.

Jika data IKK sesuai atau lebih baik dari ekspektasi, rupiah berpotensi mempertahankan penguatannya. Sebaliknya, data yang mengecewakan dapat memicu tekanan lanjutan.

Rupiah Diperkirakan Bergerak Hati-Hati

Dengan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih bersifat terbatas. Pasar cenderung menunggu kepastian dari rilis data ekonomi utama sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Penguatan rupiah yang terjadi saat ini dinilai lebih sebagai respons jangka pendek terhadap pelemahan dolar AS. Untuk mendorong tren penguatan yang lebih kuat, dibutuhkan dukungan sentimen yang lebih solid dan berkelanjutan.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan global lainnya, termasuk dinamika geopolitik dan arah kebijakan bank sentral utama dunia. Faktor-faktor tersebut dapat memicu volatilitas sewaktu-waktu.

Di tengah kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun tetap terkendali. Stabilitas akan sangat bergantung pada keseimbangan antara sentimen global dan kekuatan fundamental domestik dalam beberapa waktu ke depan.

Terkini