IHSG Tertekan Sentimen Global Dan Domestik, Investor Diminta Cermati Peluang Saham

Jumat, 06 Februari 2026 | 09:43:53 WIB
IHSG Tertekan Sentimen Global Dan Domestik, Investor Diminta Cermati Peluang Saham

JAKARTA - Tekanan kembali membayangi pergerakan pasar saham domestik setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menutup perdagangan Kamis, 5 Februari 2026, di zona merah. 

Penurunan ini terjadi di tengah campuran sentimen global dan domestik yang membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan. Meski demikian, di balik pelemahan indeks, masih terdapat sejumlah saham berkapitalisasi besar yang mampu menopang pergerakan pasar.

IHSG tercatat melemah 0,53 persen dan berakhir di level 8.103,88. Koreksi tersebut mencerminkan tekanan yang belum sepenuhnya merata, karena beberapa saham unggulan justru bergerak menguat dan menahan penurunan indeks agar tidak semakin dalam. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih selektif, dengan pelaku investasi fokus pada saham-saham tertentu yang dinilai memiliki prospek lebih stabil.

Pergerakan Saham Unggulan Yang Menahan Indeks

Di tengah tekanan IHSG, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru tampil sebagai penopang utama. Saham PT Astra International Tbk atau ASII melonjak 4,12 persen, memberikan kontribusi positif terhadap indeks. Penguatan ini mencerminkan optimisme investor terhadap kinerja emiten otomotif dan konglomerasi tersebut di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Selain ASII, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 5,84 persen. Kinerja positif TPIA turut membantu menahan laju pelemahan IHSG. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI menguat 1,00 persen, menambah deretan saham big caps yang memberikan dukungan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.

Tekanan Dari Saham Pemberat Indeks

Di sisi lain, tekanan kuat datang dari sejumlah saham yang mengalami penurunan tajam. Saham FILM tercatat anjlok 14,85 persen, menjadi salah satu pemberat utama IHSG pada perdagangan tersebut. Penurunan ini mencerminkan aksi jual agresif yang dilakukan investor, kemungkinan akibat sentimen negatif atau aksi ambil untung setelah pergerakan sebelumnya.

Tekanan juga dialami saham MORA yang melemah 14,93 persen, disusul DSSA yang turun 2,65 persen. Pelemahan saham-saham ini memperlihatkan bahwa volatilitas masih tinggi, terutama pada saham yang sebelumnya bergerak agresif. Kondisi ini menandakan pasar belum sepenuhnya stabil dan masih rentan terhadap sentimen jangka pendek.

Aksi Investor Asing Dan Pergerakan Sektoral

Dari sisi aktivitas investor global, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp355,43 miliar di pasar reguler. Jika dihitung secara keseluruhan di seluruh pasar, total jual bersih asing mencapai Rp469,75 miliar. Aliran dana keluar ini menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan IHSG sepanjang perdagangan.

Secara sektoral, mayoritas sektor berakhir di zona negatif. Tercatat 10 dari 11 sektor melemah, menandakan tekanan yang cukup luas di pasar. Sektor industrial mencatat penurunan terdalam sebesar 1,35 persen. Sementara itu, sektor consumer non-cyclical menjadi satu-satunya sektor yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,79 persen, mencerminkan karakter defensif sektor tersebut.

Sentimen Global Dan Dampaknya Ke Pasar Domestik

Tekanan eksternal turut membayangi pergerakan pasar saham Indonesia. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah, dengan indeks Dow Jones turun 1,20 persen ke level 48.908. S&P 500 terkoreksi 1,23 persen ke posisi 6.798, sementara Nasdaq melemah 1,59 persen ke level 22.540.

Sentimen negatif global ini diperparah oleh keputusan Moody’s yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level investment grade Baa2. Keputusan ini memicu kehati-hatian investor, terutama terkait prospek jangka menengah pasar keuangan domestik.

Dampak sentimen tersebut tercermin pada indeks ETF Indonesia, EIDO, yang turun 1,57 persen. Sementara itu, MSCI Indonesia bergerak relatif datar dengan penurunan tipis 0,01 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor global masih mencermati risiko, meski belum sepenuhnya keluar dari aset Indonesia.

Catatan Moody’s Dan Risiko Kebijakan

Dalam laporannya, Moody’s menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 persen pada 2025 serta target jangka panjang menuju negara berpendapatan tinggi. Penilaian ini memberikan gambaran bahwa fundamental ekonomi masih cukup solid di tengah tekanan global.

Namun, Moody’s menyoroti meningkatnya risiko dari sisi kebijakan. Beberapa faktor yang menjadi perhatian meliputi konsistensi perumusan kebijakan, penurunan kualitas tata kelola, serta peningkatan belanja sosial yang belum sepenuhnya diimbangi oleh penguatan pendapatan negara. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan kesehatan fiskal.

Selain itu, Moody’s juga mencermati wacana revisi Undang-Undang Keuangan Negara yang berpotensi mengubah batas defisit fiskal, serta isu independensi bank sentral dalam pengambilan kebijakan moneter. Kinerja dan koordinasi kebijakan Danantara turut menjadi sorotan, terutama karena ketergantungannya pada penerimaan dividen BUMN yang dinilai berisiko terhadap kesehatan keuangan BUMN.

Moody’s menegaskan bahwa peluang kenaikan peringkat saat ini tertutup, dan risiko penurunan peringkat dapat terbuka jika belanja fiskal semakin tidak terkendali, tekanan nilai tukar berlanjut, serta kondisi keuangan BUMN memburuk akibat rendahnya imbal hasil investasi. Keputusan penurunan outlook ini juga berpotensi memengaruhi penilaian FTSE Russell terhadap prospek pasar saham Indonesia, termasuk kemungkinan pembekuan proses inclusion maupun exclusion emiten Indonesia dalam indeks global.

Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan tetap selektif dan mencermati rekomendasi saham harian dengan mempertimbangkan kombinasi sentimen global, domestik, serta fundamental emiten.

Apakah Anda menyukai kepribadian ini?

Terkini