JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terlihat pada awal perdagangan akhir pekan.
Mata uang Garuda dibuka melemah di tengah dinamika pasar global yang masih diwarnai sikap kehati-hatian investor. Perubahan sentimen risiko serta sorotan terhadap kebijakan dan peringkat kredit Indonesia menjadi faktor yang tidak terpisahkan dari pergerakan rupiah hari ini.
Pelemahan rupiah terjadi saat sebagian besar mata uang di kawasan Asia justru menunjukkan pergerakan yang relatif beragam. Kondisi ini menandakan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih dipicu faktor spesifik domestik dan penguatan dolar AS, bukan semata-mata sentimen regional secara keseluruhan.
Rupiah Dibuka Melemah Di Tengah Tekanan Sentimen
Nilai tukar rupiah berada di level Rp16.872 per dolar AS pada Jumat, 6 Februari, pagi. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sekitar 30 poin atau 0,18 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini memperpanjang tren tekanan yang masih dirasakan rupiah dalam beberapa sesi terakhir.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap aset berisiko. Investor cenderung menahan eksposur pada mata uang negara berkembang, seiring menguatnya dolar AS dan meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global.
Pergerakan Mata Uang Asia Beragam
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak di zona hijau meski dengan penguatan yang relatif terbatas. Yen Jepang tercatat menguat 0,24 persen, sementara baht Thailand naik 0,17 persen. Peso Filipina juga menguat tipis sebesar 0,07 persen, mencerminkan sentimen regional yang cenderung stabil.
Namun tidak semua mata uang Asia bergerak searah. Yuan China justru melemah 0,03 persen, sedangkan won Korea Selatan terkoreksi cukup dalam sebesar 0,42 persen. Pergerakan yang beragam ini menunjukkan respons pasar yang selektif terhadap masing-masing faktor domestik dan global.
Dolar Regional Dan Mata Uang Utama Menguat
Selain mata uang Asia, dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga tercatat menguat pada pembukaan perdagangan. Dolar Singapura naik 0,09 persen, sedangkan dolar Hong Kong menguat 0,03 persen. Penguatan ini terjadi seiring stabilnya sentimen regional dan arus dana yang relatif terjaga.
Sementara itu, mata uang utama negara maju kompak berada di zona hijau. Euro Eropa menguat 0,08 persen, poundsterling Inggris naik 0,09 persen, dan franc Swiss menguat 0,12 persen. Kondisi ini menandakan meningkatnya minat investor terhadap mata uang utama di tengah ketidakpastian global.
Penguatan Dolar Australia Dan Kanada
Di kelompok mata uang komoditas, dolar Australia dan dolar Kanada juga mencatat penguatan. Dolar Australia naik 0,19 persen, sementara dolar Kanada menguat 0,09 persen. Penguatan ini mencerminkan optimisme terbatas terhadap prospek ekonomi negara-negara tersebut, meski pasar global masih diliputi kehati-hatian.
Pergerakan positif mata uang negara maju dan regional tersebut kontras dengan tekanan yang dialami rupiah. Hal ini menegaskan bahwa faktor domestik turut memainkan peran penting dalam pelemahan nilai tukar Indonesia hari ini.
Sentimen Risk Off Dan Outlook Moody’s Membayangi
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari penguatan dolar AS di tengah meningkatnya sentimen risk off. Aksi jual atau sell off terjadi pada hampir semua kelas aset, sehingga mendorong investor mencari aset yang lebih aman.
“Rupiah juga semakin tertekan oleh penurunan peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s ke negatif,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Kamis, 5 Februari. Menurutnya, perubahan outlook ini menjadi faktor tambahan yang membebani persepsi investor terhadap aset keuangan Indonesia.
Fokus Investor Pada Data Cadangan Devisa
Selain sentimen global dan penilaian lembaga pemeringkat, pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi domestik. Lukman menyebutkan bahwa investor saat ini mencermati data cadangan devisa Indonesia yang akan diumumkan siang hari.
Data cadangan devisa menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Posisi cadangan yang kuat diharapkan mampu memberikan bantalan terhadap volatilitas nilai tukar, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS. Rentang tersebut mencerminkan potensi volatilitas yang masih cukup besar, seiring kuatnya pengaruh sentimen global dan respons pasar terhadap perkembangan domestik.
Pergerakan rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, respons investor terhadap outlook kredit Indonesia, serta data ekonomi yang dirilis. Selama sentimen risk off masih mendominasi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum sepenuhnya mereda.
Pasar Masih Waspada Di Tengah Ketidakpastian
Dengan berbagai faktor tersebut, pasar valuta asing masih berada dalam fase kehati-hatian. Investor cenderung bersikap selektif dan menunggu kejelasan arah kebijakan serta data ekonomi selanjutnya. Kondisi ini membuat pergerakan rupiah berpotensi tetap fluktuatif dalam jangka pendek.
Meski demikian, stabilitas fundamental ekonomi Indonesia tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. Ketahanan makroekonomi dan kebijakan yang kredibel diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor, sekaligus membatasi tekanan lanjutan terhadap nilai tukar rupiah di tengah tantangan global.