Rupiah Bergerak Fluktuatif Terhadap Dolar AS Pada Perdagangan Selasa 3 Februari

Selasa, 03 Februari 2026 | 18:29:48 WIB
Rupiah Bergerak Fluktuatif Terhadap Dolar AS Pada Perdagangan Selasa 3 Februari

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada Selasa, 3 Februari 2026. 

Sejak awal perdagangan, rupiah menunjukkan dinamika yang cukup aktif di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Fluktuasi tersebut mencerminkan respons pasar terhadap penguatan dolar AS, perkembangan geopolitik global, serta rilis data ekonomi dalam negeri yang turut memengaruhi arah mata uang Garuda.

Berdasarkan pantauan pasar, rupiah diperkirakan bergerak tidak stabil sepanjang hari, meski kecenderungannya ditutup melemah. Tekanan datang dari penguatan indeks dolar AS, sementara dari sisi internal, rilis inflasi domestik menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor. Kondisi ini membuat pasar valuta asing berada dalam mode wait and see.

Pergerakan Rupiah Dan Dolar AS Hari Ini

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah tercatat melemah 12,50 poin atau sekitar 0,07% ke level Rp16.798 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp16.790 hingga Rp16.830 per dolar AS. Pelemahan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS yang naik 0,14% ke posisi 97,12.

Penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya minat investor terhadap aset berdenominasi dolar, seiring ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih menjadi sorotan. Pergerakan ini turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, meskipun tekanan yang terjadi relatif terbatas.

Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi

Selain rupiah, pergerakan mata uang Asia menunjukkan arah yang beragam. Yen Jepang tercatat terdepresiasi 0,10%, sementara won Korea melemah cukup dalam sebesar 0,98% terhadap dolar AS. Kondisi ini mencerminkan sentimen regional yang belum sepenuhnya solid, terutama di tengah ketidakpastian global.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru menguat. Rupee India mencatatkan apresiasi 0,49%, sedangkan yuan China menguat tipis sebesar 0,06% terhadap dolar AS. Variasi pergerakan ini menunjukkan bahwa masing-masing mata uang masih dipengaruhi faktor domestik yang berbeda, meski tetap berada dalam bayang-bayang pergerakan dolar AS.

Sentimen Global Dan Kebijakan Moneter AS

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari dinamika eksternal yang cukup kuat. Salah satu faktor utama adalah sorotan pasar terhadap penunjukan Kevin Warsh yang dinilai memiliki pandangan kritis terhadap kebijakan pembelian aset bank sentral. Hal ini memunculkan spekulasi baru terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.

Menurut Ibrahim, meskipun Warsh dianggap sejalan dengan keinginan Donald Trump untuk pemangkasan suku bunga yang tajam, kebijakan moneter jangka panjang di bawah kepemimpinannya diperkirakan tidak akan terlalu longgar. Pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan tersebut, sehingga memicu sikap hati-hati di pasar keuangan global.

“Warsh kemungkinan besar akan menekankan kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko terbesar. Jika dikonfirmasi, ia diprediksi mendukung penurunan suku bunga lebih lanjut saat masa jabatan Powell berakhir pada Mei mendatang,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Senin.

Pengaruh Geopolitik Dan Asia Timur

Dari sisi geopolitik, tensi global menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Donald Trump menyatakan bahwa Iran mulai serius membuka peluang negosiasi. Pernyataan ini memberikan sedikit sentimen positif bagi pasar global, meskipun dampaknya terhadap pergerakan mata uang masih terbatas.

Sementara itu, dari kawasan Asia Timur, yen Jepang kembali menjadi sorotan. Pernyataan Perdana Menteri Takaichi mengenai manfaat pelemahan yen bagi sektor eksportir memicu volatilitas mata uang tersebut. Kondisi ini turut memengaruhi sentimen regional, mengingat Jepang merupakan salah satu pemain utama dalam perekonomian Asia.

Fundamental Domestik Masih Positif

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 mencatatkan surplus kumulatif sebesar US$41,05 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan surplus pada 2024 yang tercatat sebesar US$31,04 miliar.

Capaian tersebut menunjukkan kinerja ekspor yang solid dan menjadi salah satu penopang stabilitas eksternal Indonesia. Namun demikian, pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia serta pergerakan rupiah ke depan.

Inflasi Januari Jadi Perhatian Pasar

Realisasi inflasi Januari 2026 tercatat mencapai 3,55% secara tahunan atau year on year. Kenaikan Indeks Harga Konsumen terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar yang memberikan andil inflasi hingga 11,93%. Data ini menjadi perhatian investor karena mencerminkan tekanan harga yang masih cukup tinggi.

Ibrahim menjelaskan bahwa inflasi tahunan tersebut dipengaruhi oleh low base effect pada tahun sebelumnya, khususnya terkait penyesuaian tarif listrik. Meski demikian, secara bulanan, Januari 2026 justru mencatatkan deflasi sebesar 0,15%. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa tekanan inflasi jangka pendek relatif terkendali.

Rupiah Dibuka Menguat Pagi Hari

Pada awal perdagangan pagi, rupiah sempat menunjukkan penguatan. Mengutip Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka menguat 33 poin atau sekitar 0,20% ke level Rp16.765 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS mengalami depresiasi sebesar 0,18% ke posisi 97,45.

Mayoritas mata uang Asia juga dibuka menguat pada pagi hari. Yen Jepang terapresiasi 0,11% bersama yuan China yang naik 0,08%. Selanjutnya, won Korea dan rupee India masing-masing menguat 0,19% dan 0,52%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih responsif terhadap perubahan sentimen global, meskipun tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang.

Terkini