Strategi Purbaya Perkuat Fondasi Ekonomi Hadapi Pelemahan Rupiah 2026

Selasa, 20 Januari 2026 | 09:21:05 WIB
Strategi Purbaya Perkuat Fondasi Ekonomi Hadapi Pelemahan Rupiah 2026

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia. 

Langkah ini penting untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus melemah. Purbaya menegaskan strategi ini mencakup koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar sektor riil tetap berjalan optimal. Fokus utama adalah menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan domestik.

Menurut Purbaya, koordinasi antara Kemenkeu dan Bank Indonesia (BI) menjadi prioritas utama. "Pertama, kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup. BI dan kita di Kemenkeu juga sudah setuju untuk menjaga itu bersama," ujar Purbaya di Gedung Parlemen, Jakarta. Langkah ini dimaksudkan agar pergerakan ekonomi tidak terganggu oleh gejolak eksternal dan volatilitas rupiah.

Selain likuiditas, efisiensi belanja pemerintah menjadi fokus. Purbaya menekankan percepatan program pemerintah di awal tahun penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan pengeluaran yang tepat sasaran, daya beli masyarakat dan produktivitas sektor riil diproyeksikan meningkat. Kebijakan ini diharapkan membantu menjaga laju pertumbuhan ekonomi tetap stabil meski rupiah melemah.

Optimalkan Likuiditas untuk Dukung Sektor Riil

Strategi berikutnya adalah memastikan sektor riil dapat beroperasi dengan optimal. Purbaya menjelaskan, jika likuiditas sistem keuangan terjaga, maka sektor riil bisa memanfaatkan peluang ekspansi lebih luas. Ketersediaan dana yang cukup mempermudah perusahaan dan investor melakukan kegiatan produksi dan investasi. Kondisi ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Debottlenecking atau perbaikan hambatan ekonomi menjadi bagian dari strategi. "Kami akan perbaiki supply, demand, ekonomi investasi, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, sektor riil. Semuanya," jelas Purbaya. Dengan langkah ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada 2026, meski rupiah sedang tertekan.

Perbaikan iklim investasi juga dilakukan untuk menarik modal asing dan domestik. Kebijakan ini mencakup penyederhanaan regulasi, peningkatan transparansi, dan pemangkasan birokrasi. Semua langkah ditujukan agar investor memiliki kepastian dan kepercayaan dalam mengambil keputusan finansial di Indonesia.

Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Pasar Keuangan

Pelemahan rupiah menjadi perhatian serius pemerintah dan pelaku pasar. Pada 19 Januari 2026, rupiah menembus Rp16.942/US$ di pasar spot, menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Di pasar offshore, rupiah bahkan menyentuh Rp17.006/US$ pada pukul 15:29 WIB. Kondisi ini memicu risiko terhadap daya tarik aset keuangan domestik.

Defisit fiskal yang melebar hingga 2,92% dari PDB pada 2025 turut memengaruhi persepsi investor. Kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menjadi salah satu indikasi aksi jual yang terjadi di pasar obligasi. Tekanan fiskal ini menambah volatilitas pasar dan mendorong investor menahan portofolio di luar negeri.

Fluktuasi rupiah juga diperparah oleh spekulasi politik. Kabar penunjukan Thomas Djiwandono sebagai calon Dewan Gubernur BI memicu ketidakpastian investor. Thomas saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, sehingga spekulasi mengenai arah kebijakan moneter baru menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.

Langkah Fiskal dan Moneter Bersinergi

Purbaya menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. BI memastikan stabilitas pasar uang sementara Kemenkeu fokus pada efisiensi belanja pemerintah. Dengan koordinasi ini, likuiditas cukup tersedia untuk menahan tekanan rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan fiskal mencakup percepatan proyek infrastruktur dan penyaluran bantuan sosial. Langkah ini menjaga konsumsi domestik tetap kuat dan mendorong sektor usaha kecil dan menengah. Sementara itu, kebijakan moneter difokuskan pada pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar, guna memberikan kepastian bagi pelaku pasar.

Sinergi ini diharapkan menurunkan risiko volatilitas ekstrem. Investor, baik domestik maupun asing, memperoleh kepastian bahwa kebijakan pemerintah responsif terhadap guncangan eksternal. Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan meminimalkan efek domino dari pelemahan rupiah.

Proyeksi Pertumbuhan dan Kepercayaan Investor

Meski rupiah melemah, Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6% tahun ini. Kunci keberhasilan terletak pada pengelolaan likuiditas, efisiensi belanja, dan perbaikan iklim investasi. Sektor riil diharapkan tetap menjadi motor pertumbuhan utama, didukung modal dan kebijakan yang memadai.

Kepercayaan investor menjadi fokus utama pemerintah. Dengan transparansi kebijakan dan koordinasi yang kuat, diharapkan minat investasi asing tetap terjaga. Hal ini penting untuk menahan tekanan rupiah dan memastikan stabilitas makroekonomi jangka panjang.

Purbaya menekankan bahwa fondasi ekonomi yang kokoh akan membuat Indonesia lebih tangguh menghadapi gejolak global. Langkah-langkah strategis yang diterapkan sejak awal tahun diharapkan memberikan dampak positif bagi seluruh sektor ekonomi. Stabilitas rupiah, pertumbuhan investasi, dan kinerja sektor riil menjadi indikator utama keberhasilan kebijakan pemerintah.

Terkini