Kurs Dolar AS di Perbankan Makin Dekat Rp Tujuh Belas Ribu Rupiah

Senin, 19 Januari 2026 | 13:56:51 WIB
Kurs Dolar AS di Perbankan Makin Dekat Rp Tujuh Belas Ribu Rupiah

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal pekan ini. 

Pergerakan kurs di pasar spot menunjukkan rupiah kian mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut tercermin dari kurs jual dan beli yang dipasang sejumlah bank besar pada Senin, 19 Januari 2026, yang sudah berada di kisaran Rp16.900 lebih, menandakan tekanan belum sepenuhnya mereda.

Situasi ini membuat masyarakat dan pelaku usaha semakin mencermati pergerakan nilai tukar, mengingat fluktuasi kurs dapat berdampak langsung pada biaya impor, harga barang, hingga stabilitas ekonomi secara umum. Di tengah dinamika global dan domestik yang masih penuh ketidakpastian, rupiah pun menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Kurs Dolar AS di Bank-Bank Besar

Sejumlah bank nasional tercatat memasang kurs dolar AS di level tinggi pada perdagangan hari ini. Di Bank Central Asia (BCA), kurs beli dolar AS dipatok sebesar Rp16.913 per USD pada pukul 10.01 WIB. Sementara itu, kurs jualnya berada di angka Rp16.933 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang masih terasa pada rupiah.

Kondisi serupa terlihat di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Bank pelat merah tersebut menetapkan kurs beli dolar AS di level Rp16.911, dengan kurs jual di kisaran Rp16.938 per dolar AS. Angka ini tidak terpaut jauh dari posisi yang dipasang BCA, menandakan konsistensi tekanan di pasar perbankan.

Pada TT Counter Bank Negara Indonesia (BNI), kurs jual dolar AS bahkan tercatat menembus Rp17.060. Sementara kurs belinya berada di angka Rp16.760 per dolar AS. Bank Mandiri pun memasang kurs jual USD tepat di level Rp17.000, dengan kurs beli di kisaran Rp16.700. Adapun CIMB Niaga menetapkan kurs beli dolar AS sebesar Rp16.908 dan kurs jual Rp16.923 per dolar AS.

Pembukaan Rupiah di Pasar Spot

Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026. Rupiah turun 17 poin atau sekitar 0,10 persen ke posisi Rp16.904 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.887 per dolar AS. Pelemahan ini kembali menegaskan bahwa tekanan eksternal masih membayangi pergerakan mata uang domestik.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan peluang penguatan yang terbatas. Menurutnya, dolar AS cenderung melemah pada pagi hari, namun sentimen global membuat rupiah belum memiliki ruang penguatan yang besar.

“Rupiah diperkirakan akan bergejolak terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Dolar AS melemah pagi ini, dengan investor menghitung dampak dari potensi tarif baru AS terhadap negara-negara yang menentang keinginan AS menguasai Greenland,” ujar Lukman, dikutip dari Antara.

Ancaman Tarif dan Sentimen Politik Global

Dari sisi global, sentimen negatif datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan memberlakukan tarif impor tambahan. Ancaman tersebut ditujukan kepada negara-negara yang tidak mendukung upaya Amerika Serikat mencaplok Greenland, wilayah otonomi Denmark yang dinilai strategis dan kaya sumber daya alam.

Sikap Trump memicu penolakan keras dari para pemimpin Eropa. Namun, Trump menilai penguasaan Greenland penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat, terutama dengan meningkatnya kehadiran China dan Rusia di kawasan Arktik. Eskalasi isu geopolitik ini mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global.

“Rupiah mungkin tidak akan menguat banyak dan juga masih berpotensi melemah oleh sentimen risk off dari eskalasi ini,” kata Lukman. Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu, 21 Januari 2026, yang diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan.

Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan

Dengan berbagai faktor tersebut, Lukman memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp16.850 hingga Rp16.950 per dolar AS. Investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter ke depan, baik dari dalam negeri maupun dari bank sentral global, sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Sementara itu, pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga ke level Rp16.840 dan bahkan dapat menembus Rp17.000 per dolar AS pada pekan berikutnya.

“Rupiah diperkirakan minggu depan tembus Rp16.840 sampai Rp17.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat, 16 Januari 2026. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah bukan hanya bersifat sementara, melainkan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Geopolitik dan Ketidakpastian Global

Ibrahim menambahkan, ketidakpastian global yang tinggi membuat pergerakan rupiah rentan terhadap penguatan dolar AS. Dari Amerika Serikat, sentimen negatif juga muncul setelah Ketua The Fed Jerome Powell dipanggil ke kejaksaan agung, meskipun Presiden Trump menegaskan Powell tidak mungkin ditangkap.

Situasi politik Amerika Serikat yang memanas ini dinilai memperburuk persepsi risiko di pasar. Selain itu, batalnya pertemuan antara pejabat Amerika Serikat dan Iran untuk melakukan negosiasi turut menambah kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Faktor Domestik Masih Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait dana Rp275 triliun yang digelontorkan Bank Indonesia ke bank-bank Himbara. Menurutnya, langkah tersebut belum menunjukkan hasil signifikan dalam menahan pelemahan rupiah.

Ia menilai minimnya koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pasar. Isu ini berpotensi kembali memicu tekanan terhadap rupiah dalam waktu dekat, sehingga peluang menembus level Rp17.000 per dolar AS masih terbuka lebar.

Dengan kondisi tersebut, pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik global, kebijakan moneter, serta koordinasi kebijakan domestik sebagai penentu utama arah nilai tukar rupiah ke depan.

Terkini